Sabtu, 13 Juli 2013

Peran Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia


            

            Saat ini banyak orang yang meremehkan peran santri dalam  proses pembentukan negara ini.  Padahal saat zaman kolonial, mayoritas umat Islam di Indonesia mengkristal dalam satu kelompok yang disebut santri yang sangat mengganjal laju pergerakan kolonialisme . Sayangnya dalam penulisan sejarah, santri tidak pernah dimunculkan, seolah-olah santri tidak punya peran. Ini merupakan strategi Belanda dalam mengaburkan kontribusi Islam di Indonesia karena sejak awal mereka menganggap santri sebagai musuh, sebagai kelompok yang harus ditumpas, dan sebagai kelompok yang harus disingkirkan. Makanya santri selalu tidak pernah diberikan peran dalam strata sosial masyarakat kolonial saat itu.
Masyarakat kolonial hanya mau bekerja sama dengan kelompok priyai. Kelompok priyai sebenarnya muslim,akan tetapi menjadi “kaki tangan” kolonial, setuju-setuju saja dengan kebijakan politik dan ekonomi  kolonial karena mereka diuntungkan. Bila sebelumnya mereka adalah keluarga kerajaan yang menikmati fasilitas, ketika kolonial datang, keadaan itu tidak berubah.  Kelompok ini lah yang diberikan kesempatan sangat banyak oleh Belanda untuk mendapat akses ekonomi dan politik.Sementara itu,  kelompok santri yang dipimpin oleh Kyai dan Ustadz tidak bisa diajak kompromi oleh Belanda karena keyakinan umat Islam tidak boleh dipimpin oleh kafir kolonial.
Sejak 1 Januari 1800, Indonesia praktis di bawah pemerintahan  Hindia Belanda. Saat itu, menurut para sejarawan sebagai abad yang paling bergolak karena terjadi perlawanan kepada Belanda di berbagai tempat. Uniknya setelah diteliti,yang mayoritas melakukan perlawanan kepada Belanda adalah kelompok santri.
 Di Jawa dan Sumatera sebagai representasi, ada 2 pristiwa besar perang kepada Belanda.  Di Jawa ada perang Diponegoro atau perang Jawa dengan tokohnya Pangeran Diponegoro dan di Sumatera ada perang padri dengan tokohnya Imam Bonjol. Sayangnya dalam buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah, Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol hanya ditulis sebagai tokoh nasional, seolah-olah tidak ada ideologi di sana. 
Padahal bila ditelusuri lebih dalam, pangeran Diponegoro sebenarnya  dahulu seorang santri. Beliau berteman baik dengan Mojo di pesantrennya. Namun karena pangeran Diponegoro anaknya raja,jadi tidak menjadi Kyai, sedangkan Mojo menjadi Kyai Mojo. Kyai Mojo juga sebagai salah satu panglima perang Pangeran Diponegoro pada tahun 1825-1830. Pasukan di belakang pangeran Diponegoro saat perang adalah santri-santri Kyai Maja. Kyai Maja tidak hanya menggerakkan dan melatih  santri di pesantrennya, tapi juga di berbagai pesantren lainnya untuk melawan Belanda dalam perang Diponegoro.  Dalam buku dosen Universitas Indonesia yang meneliti tentang strategi perang Diponegoro, dicatat bahwa  ideologi perang ini adalah jihad melawan orang kafir. Ini pertanda betapa  santri sangat kuat dan semangat melawan Belanda. Imam Bonjol dan santrinya di Sumatera Baratsampai titik tertentu  juga harus menghadapi kolonial Belanda yang dikenal perang padri pada tahun 1821-1837.
Sejarah perang Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol sepatutnya menjadi fakta yang tidak terbantahkan bahwa Indonesia memang  diperjuangkan oleh santri. Jika ada yang membantah, waktu itu tidak hanya santri yang berjuang, pertanyaannya siapa yang serius menghadapi Belanda? Abad 19 sebut saja kelompok kristen. Tokoh Kristen pasti akan dekat dengan Belanda karena Belanda yang membawa kristen, misi kristenisasi dan Zending dibiayai pemerintah kolonial Belanda. Satu-satunya yang rasional melawan Belanda adalah kelompok santri.  
Perhatikan sejarahmu untuk masa depan yang lebih baik

Narasumber: Ketua Umum Pemuda PERSIS&Peneliti Sejarah, Tiar Anwar Bachtiar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar